BBM bbm dan BBM…!!!

Sebenarnya saya muak mendengar teriakan lantang para anggota dewan, baik executive maupun legislative yang memberikan pengumuman kenaikan BBM dari satu tahun terakhir ini. Mereka berdalih karena terpaksa menaikan karena tuntutan kenaikan harga minyak dunia yang melambung tinggi.

Itu bukan sebuah alasan untuk menaikan harga BBM dan memotong subsidi untuk rakyat, yang lebih memprihatinkan dipotongnya subsidi untuk pendidikan! busyet dah…mau membuat pembodohan lagi?!

Terus terang saya heran, banyak elite politik cari muka, masih ingat dengan kasus anggota DPR yang mau nantangin Slank ke meja hijau karena lagu nya…??? emank mereka tidak pernah berfikir kali ya…! hanya pertanyaan simple, rakyat Indonesia yang mana yang kenal dengan anggota dewan…???! trus rakyat Indonesia mana yang tidak kenal dengan Slank…??? silahkan anda jawab sendiri…

Hal diatas sudah merupakan satu bukti kongkrit bahwa para elit politik kita tidak pernah berfikir jauh kedepan. Ditambah lagi dengan kenaikan BBM yang ga masuk akal…! Kita ini negara penghasil minyak, negara yang kaya akan sumberdaya alam, masa sieh kita jadi bagian negara miskin??? keterlaluan….!

Berikut saya coba kutip salah satu wacana yang saya ambil dari www.kajul.org, ini mungkin bisa jadi bahan pertimbangan kita dalam menyikapi masalah BBM ini, dan pemerintah mestinya juga ikut memperhatikan hal ini…!

OPEC menipu masyarakat dunia dengan data stock minyak

Peak-Oil” adalah fenomena yang banyak orang belum ketahui atau menyadari, dan seberapa parah “peak-oil” bisa merusak ekonomi dunia masih banyak diberdebatkan oleh “ahli ahli energi” dunia.

Banyak “ahli-energi” membuat kesimpulan masing masing dengan mempelajari data data dari setiap negara mengenai posisi stock minyak di masing masing negara. Satu hal yang sangat sering dilupakan adalah verifikasi dari data data tersebut, para peneliti data biasanya tidak bisa atau tidak boleh memakai prediksi sendiri dan akan mengunakan data yang dikeluarkan oleh masing-masing negara secara resmi.

Nah…disitu terjadi satu masalah yang sangat besar di organisasi OPEC.

Opec adalah organisasi terdiri dari 13 negara anggota (lihat http://www.opec.org/library/FAQs/aboutOPEC/q3.htm) yang didirikan untuk mengatur dan menstabilkan harga minyak di dunia. Ketigabelas negara ini adalah kelompok negara terbesar yang bersama menghasilkan jumlah minyak terbesar di dunia.

Tujuan untuk menstabilkan harga minyak dunia tercapai dengan sistem yang sangat mudah sbb:

  1. Harga minyak turun……..kecilkan supplai dengan mengecilkan produksi…..atas kesepakatan bersama setiap negara menutup beberapa kran…dan harga akan naik.
  2. Harga minyak naik……..besarkan supplai dengan memperbesar produksi…..atas kesepakatan bersama setiap negara membuka beberapa kran…dan harga akan turun.

Sistem ini berfungsi selama sumber-sumber yang telah “dipantek” adalah sumber-sumber yang tidak ada habisnya…tetapi sayangnya itu tidak berlaku lagi saat sekarang….semua sumber-sumber besar telah mulai mencapai puncak atau sudah mencapai puncak produksinya beberapa tahun lalu…..jadi membuka krannya lebih lebar tidak akan lagi menghasilkan minyak extra…dan dengan demikian harga minyak tidak dapat di-kontrol lagi…

Mengapa begitu banyak ahli belum mau menyatakan hal ini?

Karena data yang mereka pakai untuk menghitung situasi supplai harus didasarkan atas data resmi dari negara negara OPEC; dan data ini sebenarnya adalah jauh dari kenyataan.

Mengapa bisa begitu jauh dari kenyataan?

Hal ini berhubungan dengan urusan intern dari OPEC sendiri; kelompok 13 negra mempunyai satu misi; dan tentu masing-masing negara juga punya kepentingan sendiri. Misalnya Indonesia sangat membutuhkan dana untuk membiayai subsidi-subsidi energi agar masyarakat kecanduaan sama energi bersubsidi dan akan memilih presiden yang tetap menjanjikan mempertahankan subsidinya.

Jadi kepentingan untuk Indonesia adalah untuk mendapatkan jumlah Quota sebesar mungkin dari total quota yang disepakati di OPEC. Karena setiap negara anggota tentu mau mendapatkan bagian quota sebesar mungkin; anggota OPEC membuat kesepakatan bersama untuk membagi se-adil mungkin quota masing masing….dan kesepakatan yang tercapai di tahun 1985 adalah untuk memberi quota sebagai percentase dari “proven reserves” yang dimiliki masing masing negara.

Misalnya quota disepakati 1 % dari reserves; dan Indonesia misalnya mengakui punya 100Miliar barrel dalam tanahnya dan Venezuela menyatakan punya 5milliar barrel; Indonesia akan mendapat quota sebesar 1 milliar barrel dan Venezuela akan dapat 0,5 Milliar barrel.

Nah…disini terletak titik permasalahannya…cara mengaudit kebenarana dari data yang setiap negara memberi tidak dibuatkan dan itu membuat masing masing negara meningkatkan “proven reserves” makin besar.

Misalnya Kuwait di tahun 1984; satu tahun sebelum kesepakat quota dibuat mempunyai 63.9 milliar barrel, tahun berikutnya setelah kesepakatan Kuwait mengakui “proven reserves” adalah 90 milliar (hampir 50% peningkatan….impossible…lah…ha…ha…). Iraq dalam tahun 86 mempunyai 47 milliar barrel dan tahun 87 mengakui mempunyai 100 milliar barrel (100% peningkatan dalam setahun….hebohhh…..)….dan kemudian setiap negara setiap tahun mulai memperbesar data-data dari “proven reserves” dan data tersebut tidak boleh di-audit oleh siapa siapa dan secara resmi diperlakukan sebagai “state secret” di semua negara anggota OPEC http://www.kuwaittimes.net/read_news.php?newsid=MTQxNzYwMDMxNQ Negara negara produksi minyak diluar OPEC pasti juga tidak memberi data tepat….apalagi perusahaan raksasa minyak….karena nilai saham mereka juga tergantung dari data-data “proven reserves” yang sangat sulit diverifikasi….(banyak skandal seperti “overstatement dari oil reserves terjadi di dunia business minyak)

Hal ini telah membuat keadaan dunia jauh lebih bahaya karena data yang dianggap terpercaya ternya tidak benar dan situasi yang sebenarnya bisa ternyata jauh lebih parah daripada kita pikirkan atau para ahli cerminkan.

Karena kebohongan ini; krisis raksasa telah menunggu kita semua dan mudah-mudahan para pemimpin negara dan pemimpin dunia mulai menyatakan situasi sebenarnya….karena tanpa pengetahuan situasi sebenarnya krisis akan makin dalam dan tidak terkendali lagi.

Sekarang telah datang waktunya untuk mengakui kebohongan selama ini untuk menyelamatkan bangsa dari krisis lebih parah.

Siapkan diri mengahapi krisis yang luar biasa besarnya….mulai menyadarkan diri mengenai energi dan cara para pemimpin lama menyalahgunakan energi (dan khususnya energi bersubsidi agar alternatif tidak dapat bersaign) sebagai alat kekuasaan. (anda yang mengerti alat “polinomics” akan bisa melawan terulang lagi)

Masyarakat yang sadar energi dapat membantu membangun kembali ekonomi yang rontok akibat kelakuan penipuan pemimpin dunia lama….

Bangun….Bangun….Banggggguuunn……!


(Maurice Adema)

Ternyata semua hanya berdalih POLITIK…! Tapi semua kembali lagi ke pribadi kita masing-masing, mau dibawa kemana bangsa ini, ingin jadi negara yang selalu bodoh dan dibodoh-bodohi atau negara yang memang senang di bodohi atau menjadi negara yang Bermartabat dan Bermoral…? semua itu balik lagi kepada pribadi para pemimpin kita, karena meraka merupakan juru bicara dari RAKYAT INDONESIA…!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: